Istanbul (KABARIN) - Pemerintah Filipina resmi mengambil langkah serius menghadapi krisis energi global. Pada Selasa, negara ini menjadi yang pertama mengumumkan keadaan darurat nasional akibat terganggunya rantai pasok energi imbas konflik di Timur Tengah.
Dilaporkan GMA News, Presiden Ferdinand Marcos Jr. telah menandatangani perintah eksekutif yang menetapkan status darurat tersebut. Kebijakan ini sekaligus mengaktifkan respons nasional untuk menjaga kestabilan pasokan energi dan menahan dampak ekonomi dari lonjakan harga bahan bakar.
Sebagai langkah konkret, pemerintah Filipina meluncurkan program bernama “UPLIFT”. Program ini dirancang sebagai kerangka dukungan menyeluruh yang mencakup kehidupan masyarakat, sektor industri, ketahanan pangan, hingga transportasi.
Fokusnya jelas: membantu sektor-sektor krusial seperti transportasi, pertanian, dan UMKM agar tetap bertahan di tengah tekanan biaya energi yang makin tinggi.
Pejabat setempat menyebut status darurat ini memberi ruang bagi pemerintah pusat untuk bergerak lebih cepat dan fleksibel. Dengan kebijakan ini, otoritas bisa memobilisasi sumber daya secara maksimal, mengatur distribusi bahan bakar, hingga menyalurkan bantuan secara lebih tepat sasaran ke kelompok yang paling terdampak.
Ketergantungan Filipina terhadap energi impor juga jadi faktor penting di balik keputusan ini. Sekitar 26 persen kebutuhan energi nasional masih dipasok dari kawasan Timur Tengah. Sepanjang 2024 saja, negara itu menghabiskan sekitar 16 miliar dolar AS untuk energi dari wilayah tersebut.
Sementara itu, situasi di Timur Tengah terus memanas. Ketegangan meningkat sejak serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari. Serangan tersebut dilaporkan menewaskan sekitar 1.340 orang, termasuk Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.
Iran kemudian membalas dengan meluncurkan serangan drone dan rudal ke sejumlah wilayah, termasuk Israel, Yordania, Irak, hingga negara-negara Teluk yang menjadi lokasi aset militer Amerika Serikat.
Tak berhenti di situ, Teheran juga mengambil alih kendali Selat Hormuz, jalur vital yang menjadi salah satu urat nadi distribusi minyak dunia. Jalur ini sangat krusial, terutama bagi negara-negara Asia yang sebagian besar pasokan energinya bergantung pada rute tersebut.
Editor: Raihan Fadilah
Copyright © KABARIN 2026